Nature-Based Solution: Menanaman dan Merawat Pohon Langkah Sederhana Untuk Menjaga Bumi

Krisis lingkungan global dapat dihadapi melalui penanaman dan pemeliharaan pohon sebagai solusi alami untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mengurangi dampak perubahan iklim.

Bayu Winata

6/26/2026

Saat ini dunia sedang menghadapi tiga krisis lingkungan global atau the triple planetary crisis yang mengancam keberlanjutan kehidupan di bumi. Ketiga krisis tersebut meliputi perubahan iklim (climate change), polusi (pollution), dan kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity loss). Kombinasi ketiga masalah tersebut dipandang sebagai tantangan terbesar bagi kehidupan manusia dan kelestarian bumi (Ellwanger & Chies, 2026).

Menurut Ellwanger & Chies (2026), ketiga krisis lingkungan tersebut dapat menimbulkan berbagai dampak serius, mulai dari kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati hingga meningkatnya risiko penyebaran penyakit zoonosis (zoonotic infectious diseases). Oleh karena itu, berbagai negara di dunia terus berupaya mencari solusi melalui berbagai kesepakatan internasional, seperti Protokol Montreal (1987), United Nations Framework Convention on Climate Change (1992), Protokol Kyoto (1997), dan Paris Agreement (2015). Selain itu, serangkaian konferensi internasional Conference of the Parties (COP) juga telah diselenggarakan sejak tahun 1995 hingga 2025 sebagai bagian dari upaya global untuk mengendalikan perubahan iklim (Stagaw, 2025).

Namun, perundingan dan komitmen di tingkat global saja tidak cukup untuk mengatasi krisis lingkungan yang semakin nyata. Perubahan iklim dan berbagai bencana hidrometeorologi memerlukan tindakan konkret yang dapat dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Salah satu langkah penting adalah memperbaiki kondisi ekosistem yang telah mengalami degradasi.

Degradasi ekosistem merupakan kondisi ketika suatu lingkungan mengalami penurunan kualitas atau kehilangan komponen penyusunnya sehingga fungsi ekologisnya terganggu, menurun, bahkan hilang sama sekali. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh manusia melalui menurunnya daya dukung ekosistem terhadap aspek sosial dan ekonomi.

Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan nature-based solutions atau solusi berbasis alam semakin mendapat perhatian global sebagai strategi untuk memulihkan ekosistem, meningkatkan daya dukung lingkungan, serta membantu mitigasi perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi. Berbagai kajian ilmiah, seperti yang dilakukan oleh Kabisch et al. (2016), Koutika et al. (2026), Peck et al. (2026), Sedrati et al. (2026), Yasmeen et al. (2026), dan Haijuan et al. (2026), menunjukkan bahwa solusi berbasis alam memiliki potensi besar dalam menjawab berbagai tantangan lingkungan saat ini.

Menanam Pohon: Tindakan Kecil dengan Dampak Besar

Di antara berbagai solusi berbasis alam, menanam pohon merupakan langkah yang paling sederhana dan dapat dilakukan hampir oleh semua orang. Pohon bukan sekadar penghias halaman atau elemen estetika lingkungan. Pohon adalah organisme hidup yang memiliki peran ekologis sangat penting di dalam suatu ekosistem.

Sebagaimana makhluk hidup lainnya, pohon tumbuh, berkembang, dan beradaptasi dengan lingkungannya. Meskipun tidak dapat berbicara, pohon juga membutuhkan kondisi lingkungan yang mendukung agar dapat hidup secara optimal. Karena itu, keberadaan pohon sesungguhnya merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan lingkungan.

  1. Menyerap karbon dioksida (CO2) dan menghasilkan oksigen (O2). Pohon merupakan organisme autotrof, karena mampu menyintesis sumber energinya sendiri melalui proses fotosintesis. Dalam proses fotosintesis pohon membutuhkan bahan baku yang terdiri dari CO2 dan air (H2O) untuk menghasilkan sumber energi kimia berupa karbohidrat (C6H12O6). Karbohidrat tersebut digunakan oleh pohon untuk tumbuh-kembang dan adaptasi lingkungan. Proses fotosintesis juga menghasilkan O2 yang dikeluarkan ke lingkungan sekitar agar bermanfaat bagi pohon itu sendiri juga makhluk hidup lainnya, misalnya proses respirasi organisme.

  2. Membantu mengatur dan memelihara iklim mikro. Pernah merasakan suasana panas yang tidak nyaman saat berada di ruang terbuka tanpa ada naungan tajuk pohon atau dingin basah kuyup saat terkena hujan ? Adanya tutupan kanopi pohon menciptakan sistem perlindungan terhadap permukaan tanah dari terik matahari dan pukulan air hujan secara langsung. Hal tersebut dapat menurunkan suhu lingkungan, dan meningkatkan kelembapan udara. Dua hal yang dapat mempengaruhi suasana kenyamanan lingkungan secara klimatis.

  3. Membantu mengatur siklus air. Pohon memiliki bagian-bagian, seperti tajuk yang terdiri dari daun dan ranting, cabang dan batang, serta akar. Semua bagian tersebut secara langsung dan tidak langsung berperan dalam proses-proses yang terlibat pada siklus air, misalnya intersepsi air hujan, infiltrasi air, transpirasi, dan evaporasi.

  4. Membantu konservasi tanah dan air. Pohon berperan dalam pengendalian aliran permukaan (run off), erosi, dan sedimentasi. Bahkan, bagian pohon yang sudah mati sekalipun, seperti daun yang gugur dan terakumulasi di atas permukaan tanah bermanfaat dalam menjaga suhu serta kelembapan tanah juga menjadi bahan makanan bagi mikroorganisme tanah (dekomposer). Dekomposisi merupakan proses yang penting bagi siklus hara dan kesuburan tanah.

  5. Membantu melindungi keanekaragaman hayati. Pohon menyediakan ruang (habitat) bagi berbagai organisme lainnya baik flora maupun fauna, dari yang berukuran mikro hingga makro. Karbohidrat yang dihasilkan dari proses fotosintesis tidak hanya menjadi menjadi sumber energi kimia bagi pohon itu sendiri, tetapi juga sumber energi kimia bagi makhluk hidup lainnya, seperti hewan bahkan manusia. Dari tajuk, batang, hingga perakarannya, kita dapat melihat berbagai macam organisme hidup misalnya lumut, epifit, serangga, burung, ular, kadal, katak, siput, bahkan berbagai jenis jamur.


Jika dipikirkan lebih jauh, pohon merupakan "mesin ekologis" yang luar biasa. Berbagai fungsi penting tersebut dijalankan tanpa memerlukan bahan bakar minyak, baterai, atau energi buatan manusia. Pohon hanya membutuhkan sinar matahari, air, dan unsur hara dari tanah.

Tugas manusia sebenarnya cukup sederhana, yaitu menanam dan merawatnya. Jika diperlukan, pohon dapat diberi pupuk, terutama pupuk organik seperti kotoran hewan, serasah daun, atau limbah dapur organik. Selain membantu pertumbuhan pohon, penggunaan pupuk organik juga berkontribusi dalam menjaga kesehatan dan kesuburan tanah.

Saat ini, kegiatan penanaman pohon semakin populer dan sering menjadi bagian dari berbagai kegiatan seremonial. Fenomena ini patut diapresiasi karena menunjukkan meningkatnya kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari ekosistem dan bergantung pada keseimbangan alam.

Namun demikian, terdapat beberapa hal penting yang perlu diperhatikan agar kegiatan menanam pohon benar-benar memberikan manfaat ekologis.

Pertama, menanam pohon harus diikuti dengan kegiatan pemeliharaan. Menanam merupakan langkah awal, tetapi memastikan pohon dapat tumbuh dan bertahan hidup jauh lebih penting.
Kedua, penanaman pohon sebaiknya mengutamakan jenis-jenis lokal (native species) dan, bila diperlukan, dapat dipadukan dengan multi purpose tree species (MPTS). Penggunaan jenis lokal penting karena spesies tersebut telah beradaptasi secara alami dengan lingkungan setempat dan mampu mendukung keberlanjutan ekosistem.

Selain itu, penggunaan jenis lokal juga dapat mengurangi risiko masuk dan berkembangnya spesies asing invasif atau invasive alien species (IAS) yang berpotensi mengganggu kelestarian keanekaragaman hayati setempat.

Referensi:
Ellwanger JH, Chies JAB. 2026. Triple planetary crisis and emerging zoonotic diseases: consider degwroth as a solution. Earth Critical Zone 3(1): 1-7. doi.org/10.1016/j.ecz.2025.100030

[Stagaw] Stasiun Pengamatan Atmosfer Global Lore Lindu Bariri. 2025. Pengenalan Conference of the Parties (COP) dan pembaharuan hasil COP30 di Belém, Brasil. [online]. Tersedian di: https://gaw-bariri.bmkg.go.id/publikasi/artikel/372-pengenalan-conference-of-the-parties-cop-dan-pembaruan-hasil-cop30-di-belem-brasil [Diakses pada: 24 Juni 2026].

Ilustrasi pohon dalam suatu ekosistem

admin@rimbarayaindonesia.or.id