Lewat Dosen Pulang Kampung, IPB Bawa Inovasi Kehutanan ke Masyarakat Lebak
Dari seleksi pohon plus hingga agroforestri, program Dospulkam IPB 2026 mempertemukan pengetahuan kampus dengan kebutuhan masyarakat desa hutan di Cileles, Lebak.


Dari memilih pohon unggul, mengelola benih dan bibit, hingga mengenali hama dan penyakit, pengetahuan kehutanan dibawa lebih dekat kepada masyarakat melalui program Dosen Pulang Kampung IPB University 2026 di Lebak, Banten.
Hutan rakyat tidak hanya membutuhkan lahan dan pohon untuk dapat tumbuh produktif. Di balik tegakan yang terlihat di lapangan, ada pengetahuan tentang bagaimana memilih sumber benih, menentukan bibit, merawat tanaman, menghadapi hama dan penyakit, hingga mengelola lahan agar dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus ekologis.
Pengetahuan tersebut menjadi bagian penting dari inovasi kehutanan ketika dapat diterapkan langsung oleh masyarakat yang mengelola hutan di tingkat tapak.
Semangat itulah yang dibawa IPB University melalui program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) 2026 di Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak, Banten. Pada 30 September 2026, sebanyak 31 masyarakat desa hutan mengikuti pelatihan pengelolaan tanaman sengon (Falcataria falcata).
Kegiatan ini dilaksanakan bekerja sama dengan UPTD Sertifikasi Perbenihan Tanaman Hutan (SPTH) Banten, serta melibatkan penyuluh kehutanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Kelompok Tani Hutan (KTH) Bocah Gunung.
Ketika inovasi keluar dari kampus
Perguruan tinggi memiliki dua peran penting dalam kehutanan: menghasilkan pengetahuan melalui penelitian dan memastikan pengetahuan tersebut dapat memberi manfaat di lapangan.
Melalui Dospulkam, jarak antara keduanya coba dipersempit.
Prof. Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MSi, selaku Ketua Pelaksana, menjelaskan bahwa Dosen Pulang Kampung merupakan bentuk pengabdian dosen IPB dengan membawa hasil penelitian dan inovasi kepada masyarakat agar dapat dipraktikkan secara langsung.
Pendekatan ini membuat inovasi kehutanan tidak berhenti pada ruang akademik. Pengetahuan yang dihasilkan dari penelitian diterjemahkan menjadi materi dan keterampilan yang dapat digunakan oleh masyarakat dalam mengelola tanaman dan lahan.
Di Cileles, salah satu tanaman yang menjadi fokus adalah sengon.
Sengon: cepat tumbuh, tetapi tetap membutuhkan pengetahuan
Sengon (Falcataria falcata) dikenal sebagai salah satu jenis tanaman cepat tumbuh yang memiliki nilai ekonomi. Karena karakter tersebut, sengon banyak dikembangkan dalam hutan rakyat.
Namun, pertumbuhan cepat bukan berarti tanaman terbebas dari persoalan.
Serangan hama dan penyakit dapat mengganggu pertumbuhan dan produktivitas. Sementara itu, kualitas sumber benih dan bibit juga berpengaruh terhadap kualitas tanaman yang akan dibangun.
Karena itu, pelatihan Dospulkam tidak berhenti pada teknik menanam sengon. Masyarakat juga diperkenalkan pada berbagai aspek yang menentukan keberhasilan tanaman sejak awal.
Materinya mencakup seleksi pohon plus, teknik budidaya, pengenalan dan penanganan hama serta penyakit, pengelolaan benih dan bibit tanaman hutan, kesuburan tapak, serta agroforestri.
Memulai hutan dari pohon yang tepat
Salah satu materi penting dalam kegiatan ini adalah seleksi pohon plus.
Pohon plus merupakan pohon yang memiliki karakter unggul tertentu dan dapat dipilih sebagai bagian dari upaya pemuliaan pohon. Bagi masyarakat, pengetahuan tersebut membuka pemahaman bahwa membangun hutan yang produktif tidak semata-mata dimulai ketika bibit ditanam.
Prosesnya dimulai dari sumber genetik.
Memilih pohon dengan karakter yang baik, memahami asal benih, serta memastikan kualitas benih dan bibit menjadi bagian dari rangkaian pengelolaan yang menentukan kualitas tegakan di kemudian hari.
Dengan demikian, inovasi kehutanan tidak selalu berbentuk teknologi yang rumit. Pengetahuan tentang pohon mana yang dipilih, benih mana yang digunakan, dan bagaimana tanaman dirawat juga merupakan bagian dari inovasi ketika mampu meningkatkan kualitas pengelolaan hutan.


Peserta melakukan pengukuran diameter pohon sengon (Falcataria falcata) sebagai bagian dari proses identifikasi calon pohon plus (Foto: Panitia).
Dari tanaman kehutanan menuju agroforestri
Pengelolaan lahan masyarakat juga tidak selalu harus memisahkan tanaman kehutanan dan tanaman pertanian.
Karena itu, agroforestri menjadi salah satu materi dalam pelatihan. Pendekatan ini menggabungkan tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian dalam satu sistem pengelolaan lahan.
Bagi masyarakat desa hutan, pendekatan tersebut dapat menjadi pilihan untuk mengelola lahan secara lebih beragam sekaligus mempertahankan fungsi tanaman kehutanan.
Di sinilah pengetahuan kehutanan bertemu dengan kebutuhan masyarakat: bagaimana lahan dapat tetap produktif, sementara fungsi ekologis dan keberadaan pohon tetap dipertahankan.
Bukan hanya pelatihan, tetapi juga mengukur perubahan pengetahuan
Transfer pengetahuan tidak cukup hanya dengan menghadirkan peserta dan pemateri.
Tim Dospulkam IPB melakukan pre-test dan post-test untuk melihat perubahan pemahaman peserta. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan nilai pada seluruh materi yang diberikan setelah pelatihan.
Hasil tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pengetahuan yang disampaikan dapat diterima oleh peserta.
Untuk memperkuat pembelajaran setelah kegiatan, tim juga menghasilkan sejumlah modul. Materi tersebut mencakup penanganan hama tanaman sengon, pengenalan penyakit pada tanaman sengon, seleksi pohon plus, penanganan benih dan bibit tanaman hutan, teknik budidaya sengon dan kesuburan tapak, serta agroforestri.
Dengan adanya modul, pengetahuan yang dibawa dari kampus tidak berhenti ketika pelatihan selesai.
Inovasi yang harus sampai ke tingkat tapak
Kegiatan di Cileles memperlihatkan bahwa inovasi kehutanan memiliki arti yang lebih luas dari sekadar teknologi baru.
Inovasi juga dapat berupa pengetahuan yang membantu masyarakat memilih sumber benih yang lebih baik, mengenali gangguan tanaman lebih awal, meningkatkan teknik budidaya, dan mengelola lahan dengan pendekatan yang lebih beragam.
Karena itu, keberhasilan inovasi kehutanan pada akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa banyak penelitian yang dihasilkan, tetapi juga dari seberapa jauh pengetahuan tersebut dapat digunakan oleh masyarakat.
Melalui Dospulkam 2026, IPB University mencoba membawa pengetahuan tersebut lebih dekat kepada masyarakat Lebak.
Dari kampus ke hutan rakyat. Dari penelitian ke praktik. Dan dari pengetahuan menjadi kemampuan masyarakat untuk mengelola pohon dan lahannya sendiri.
Sebab inovasi kehutanan akan memiliki arti yang lebih besar ketika tidak hanya berhenti di ruang penelitian, tetapi tumbuh dan digunakan bersama masyarakat di tingkat tapak.
Peserta berdiskusi bersama pendamping dari IPB University dalam proses identifikasi dan seleksi pohon yang berpotensi menjadi pohon plus di sekitar kampung (Foto: Panitia).


Prof. Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MSi
admin@rimbarayaindonesia.or.id
